
MAKASSAR – Ramadhan selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Masjid lebih ramai, tilawah lebih sering terdengar, sedekah lebih mudah mengalir dari tangan-tangan yang mengharap ampunan dan pahala. Ramadhan datang setiap tahun seperti kesempatan yang diulang. Seakan berkata pelan kepada hati, “Masih ada waktu untuk memperbaiki arah”.
Sebab rahmat Allah tidak pernah sempit. Jika niat terasa keruh, ia masih bisa dijernihkan. Jika hati terasa keras, ia masih bisa dilembutkan. Jika amal terasa ringan di lisan, namun berat di hati, Allah masih membuka pintu perbaikan. Karena itu Ramadhan bukan hanya tentang memperbanyak amal. Namun juga tentang meluruskan arah hati.
Dua syarat diterimanya amal ibadah, yaitu Ikhlas dan meneladani apa yang diajarkan oleh nabi kita Muhammad Shalallahu Alaihi wasallam menjadi penekanan penting yang disampaikan oleh Ustadz Jamaluddin Abu Yahya dalam rangkaian buka puasa bersama insan Balai Labkesmas Makassar Kamis (5/3/2026). Dalam ceramahnya, ustadz juga menyampaikan keutamaan untuk selalu berada di jalan Allah.
“Ada satu do’a yang diajarkan Nabi, khususnya agar kita senantiasa istiqomah dalam beribadah,” ujarnya. Yang mana lafadz do’a tersebut terkandung dalam HR. Tirmidzi, no. 3522 dan Ahmad, 6:315, “Ya muqollibal quluub tsabbit qolbii ‘ala diinik.” (Artinya: Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu)
Istiqomah, artinya konsisten untuk terus melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Ustadz Jamaluddin menekankan, apabila seseorang tak sanggup menjalankan seluruh amalan, maka janganlah ia meninggalkan semuanya. “Kita beribadah untuk mengejar rida Allah. Maka seandainya di antara kita ada yang tak sanggup mengerjakan seluruh amalan, janganlah kita meninggalkan seluruhnya. Kerjakanlah yang sebagian itu,” tegasnya.
Ustadz Jamaluddin melanjutkan, terdapat dua jihad bagi orang yang berpuasa. Yakni jihad pada siang hari dan malam hari. “Ada 2 jihad bagi orang yang berpuasa. Yaitu tatkala menahan hawa nafsu saat berpuasa di siang hari, dan saat melaksanakan ibadah di malam hari,” ungkapnya.
Saat berpuasa di siang hari, kita berusaha menghindari segala sesuatu yang membatalkan dan mengurangi nilai pahala puasa. Yakni dengan menjauhi perilaku tercela seperti gibah, adu domba dan aniaya. Menurut ustaz, menjaga hawa nafsu apalagi saat berpuasa bukanlah perkara yang mudah.
Tak hanya mengejar pahala di siang hari, mendirikan shalat di malam hari juga memiliki keutamaan. Shalat berjamaah di masjid, tarawih dan witir menurut ustadz adalah partnya. Yang mana jika amalan ini dikerjakan secara konsisten selama bulan Ramadhan, maka akan berpotensi mengantarkan kita dalam mendapatkan malam Lailatul Qadr.
Terakhir, dirinya mengajak semua yang hadir untuk bersama-sama memaksimalkan amal sholeh di sisa Ramadhan. Bertemu malam Lailatul Qadr adalah hal yang dinanti-nantikan oleh seluruh umat muslim. Yang mana kunci dari semua itu adalah konsistensi dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala.
Semoga Allah pertemukan kita dengan Malam Lailatul Qadr dalam keadaan Bertaqwa kepada-Nya, aamiin….